6 Sep 2016

Unidentified Story

CHAPTER 1
ASIH WULANDARI


Namaku Asih Wulandari, aku adalah seorang orang tua tunggal dari satu orang putra. Aku lahir ke dunia 40 tahun yang lalu, anak semata wayang ku kini sudah berusia 22 tahun. Yah aku memang menikah muda, usia ku saat itu masih 17 tahun. Aku berasal dari keluarga sederhana di daerah perkampungan di Jawa Barat. Orang tua sebagai petani, dan memiliki banyak saudara dan saudari membuat ku tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi, aku hanyalah lulusan SMP. Selepas lulus sekolah, aku membantu kedua orang tua ku bekerja di ladang. 

Tidak seperti anak zaman sekarang yang kenal dengan cinta, aku yang dari kecil sudah kerja membantu orang tua tidaklah mengalami hal tersebut. Ketika sudah berusia 17 tahun, aku dinikahkan dengan anak dari kerabat orang tua ku yang bernama Darmawan. Dia anak seorang petani juga sama seperti ku, tapi dia sedikit beruntung karena bisa sekolah sampai tingkat SMK. Usianya 3 tahun lebih tua dariku, dia sudah bekerja di sebuah pabrik elektronik di daerah pinggir Ibu Kota. Walaupun belum begitu mapan, tapi setidaknya dia bisa menafkahi ku, begitu pikirku. Oleh karena itulah, ketika aku dilamar, aku pun tidak menolak lamaran tersebut. Justru aku senang, setidaknya jika aku ikut pindah bersamanya, aku bisa mencari pekerjaan juga yang sesuai denganku, dan bisa membantu adik-adikku.

Setahun setelah pernikahan kami, kami dikaruniai seorang putra, dia kami beri nama Dimas Putra Riyadi. Kehidupan pernikahan kami selama setahun sangatlah bahagia, gaji suamiku lebih dari cukup untuk menghidupi kami, bahkan kami pun bisa menyicil tempat tinggal yang kami tempati, rumah sederhana ini. Akupun juga bisa membuka warung sembako kecil-kecilan di depan rumah, keuntungan warung tersebut kami tabung di bank untuk keperluan sekolah Dimas jika sudah besar nanti.

Tapi kebahagian itu tidaklah berlangsung lama, pada suatu ketika di usia pernikahan kami yang ke 7, suami ku mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan suamiku tewas seketika itu juga. Akupun sedih bukan main, nafsu makan dan gairah hidupku sirna seketika. Akan tetapi aku dinasehati kedua orang tua ku, dan juga mertuaku agar aku bisa ikhlas menerima ujian ini, aku harus mampu survive dalam menjalani hidup ini, dan juga dalam membesarkan putra semata wayang kami, Dimas.

1 komentar:

Siska qravity mengatakan...

wow lanjutkan ceritanya lagi, ini cuma 1 chapt?

cara mencerahkan wajah